Madina

it-information

OBJEK WISATA

Sebagai sebuah daerah tujuan wisata, Kabupaten Mandailing Natal (Madina) di Sumatera Utara memang belum cukup dikenal. Namun potensi wisatanya setara dengan kawasan-kawasan ekowisata semacam di Taman Nasional Kerinci Seblat di Jambi maupun Pegunungan Dieng di Jawa Tengah.

Persoalan utama pariwisata di Kabupaten Mandailing Natal (Madina) terutama karena jaraknya yang cukup jauh dari Medan, ibukota Sumatera Utara.  Mencapai 480 kilometer lebih. Minimal 12 jam perjalanan dengan angkutan darat.

Solusi jarak ini hanya dapat diatasi dengan angkutan udara dari Bandara Polonia Medan menuju Bandara Aek Godang di Kabupaten Tapanuli Selatan. Dari Aek Godang ke Panyabungan, ibukota Madina, sekitar 40 kilometer lagi. Saat ini penerbangan hanya dilayani Merpati Airlines yang terbang dua kali seminggu, yakni Senin pukul 12.00 dan Rabu pukul 10.00 Wib. Harga tiketnya Rp 320 ribu.

Objek wisata di Madina, berpusat pada desa-desa yang berada di kawasan Taman Nasional Batang Gadis (TNBG). TNBG ini baru saja diresmikan sebagai taman nasional ke 42 di Indonesia oleh Menteri Kehutanan MS Kaban pada 25 Februari 2005. Menariknya, objek wisata pada kawasan ini hingga sekarang tidak menerapkan pungutan biaya masuk sama sekali.

Gunung Sorik Marapi

Pendakian menuju Gunung Sorik Marapi bisa dimulai dari Sibanggor Julu ini. Posisinya berada di lereng timur Gunung Sorik Marapi yang berada di ketinggian 2.145 meter dari permukaan laut. Gunung ini merupakan daya tarik utama wisata di TNBG.

Gunung Sorik Marapi yang berada pada koordinat 00o41′ 11.72″ lintang utara dan 99o32′ 13.09″ bujur timut, merupakan gunung berapi aktif. Data dari Direktorat Vulkanologi, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan gunung ini pernah meletus sebanyak tujuh kali. Masing-masing pada tahun 1830, 1879, 1892, 1893, 1917, 1970, 1986 dan terakhir pada tahun 1987.

Pada letusan terakhir, Sorik Marapi memuntahkan debu dan lahar panas yang mengaliran sampai ke Kabupaten Pasaman di Sumatera Barat. Dengan kondisi ini, maka para pendaki diminta untuk melapor ke Pos Pengamatan Gunung Sorik Marapi yang ada di sana, untuk mengetahui statusnya.

Terbilang jarang orang mendaki sampai ke puncak, paling hanya penduduk sekitar yang mencari binatang buruan atau kayu bakar. Makanya nyaris tidak ada sampah modrenisasi  di gunung ini seperti halnya gunung-gunung di Pulau Jawa atau Sumatera.

Perjalanan ke puncak memang cukup membutuhkan tenaga karena tanjakan yang terus menerus. Tetapi hal itu impas dengan eksotisme sajiannya yang bisa dinikmati mulai titik pendakian. Kawah akan tergapai dalam tempo tiga jam perjalanan. Selama perjalanan mendapatkan kawah itu, sejumlah tumbuhan langka dan unik bisa dilihat sepanjang perjalanan seperti anggrek dan tanaman perdu lainnya. Sementara kicauan burung beragam jenis menjadi pesona lainnya.

Jika beruntung, dapat juga menemukan jejak atau mendengar suara binatang langka. Kawasan ini memang tempat habitat kambing hutan (Naemorhedus sumatraensis), tapir (Tapirus indicus), kucing hutan (Catopumatem minckii), kancil (Tragulus javanicus), binturong (Arctitis binturong), beruang madu (Helarctos malayanus), rusa (Cervus unicolor) dan kijang(Muntiacus muntjac) atau landak (Hystix brachyura).

Baik mendaki maupun turun menggunakan jalur yang sama. Jika pendakian membutuhkan waktu sekitar empat atau lima jam, maka turun dari puncak hanya sekitar dua jam saja. Sejumlah penduduk sekitar bisa diminta menjadi guide.

Sibanggor

Berwisata selama satu hari penuh dengan menyewa mobil, atau pun menumpang angkutan umum dari Panyabungan, bisa dimulai dari Sibanggor. Kawasan Sibanggor yang berada di Kecamatan Tambangan, terdiri dari tiga desa, Sibanggor Jae, Sibanggor Tonga dan Sibanggor Julu. Ketiganya punya panorama hijau menarik dengan lanskap pegunungam.

Desa Sibanggor Tonga, yang berada sekitar 12 kilometer dari Panyabungan, dapat ditemukan solfatara, sumber air panas yang mengandung belerang. Gelegar suara dari sumber air panas itu terdengar hingga beberapa meter. Lokasinya berada persis di tepian jalan, sehingga mudah dikunjungi. Lahan parkir cukup luas untuk beberapa mobil.

Masyarakat secara swadaya mendirikan tempat pemandian air panas. Ada dua kolam yang dirikan berdampingan. Kolam pertama yang cukup panas, sumber airnya langsung dari pusat air panas. Sementara kolam kedua yang airnya lebih hangat bersumber dari aliran dari kolam pertama. Jika ingin mandi, ada beberapa kamar ganti disediakan.

Tak jauh dari situ terdapat aliran Sungai Aek Nilas. Aliran sungai itu berbatasan langsung dengan tembok perbukitan. Di sini juga terdapat beberapa sumber air panas. Letupan-letupan kecil dari sumber air panas itu bisa melentik hingga satu meter. Panasnya bisa mencapai 70 derajat celcius.

Kadar panas itu membuat batu-batuan di sekitarnya berubah warna menjadi merah dan kuning. Aliran air panas yang masuk ke batang aliran sungai, membuat Sungai Aek Tilas menjadi hangat. Aliran sungai yang deras dengan bebatuan yang di tengahnya menjadi lokasi menarik untuk aktifitas wisata sungai. Sayang, karena dangkal, sejauh ini masih belum bisa dijadikan lokasi arung jeram.

Setelah bermain air panas sekitar satu jam, perjalanan bisa dilanjutkan  menuju Desa Sibanggor Julu. Hanya sekitar 10 menit perjalanan. Keunikan Sibanggor Julu terutama karena di sini masih terdapat rumah-rumah tradisional. Modelnya rumah panggung, beratap ijuk dengan material dari kayu.

Barisan rumah tradisional itu menjadi pemandangan yang eksotis. Desa yang berada di kaki Gunung Sorik Marapi itu merupakan salah satu kekayaan khasanah budaya Mandailing, dengan warganya yang masih kental dengan budaya dan bahasa Mandailing. Penghidupan utamanya adalah pertanian dataran tinggi. Perkebunan jeruk dan tanaman sayuran dapat dilihat di mana-mana.

Danau Sibebegu

Pendakian juga bisa dilakukan melalui Danau Sibebegu yang berada di Desa Sopotinjak, di Kecamatan Batang Natal. Lokasinya berada sekitar 500 meter dari tepian jalan raya Medan – Padang, Sumatera Barat, atau sekitar 20 menit dari Sibanggor Julu. Hanya saja jalur pendakian dari sini tidak begitu jelas.

Danau Sibebegu punya pesona yang mengagumkan. Pada waktu pagi, kondisinya sama persis seperti Danau Beratan di Bedugul, Bali. Kabut tipis perlahan naik dari atas air. Sementara pohon-pohon di tepian danau menjadi pagar hijau di sekelilingnya, kontras dengan tumbuh ilalang yang ada di tepian danau. Memandangnya lamat-lamat, menyejukkan mata. Sementara udara dingin pegunungan menjadi oksigen murni yang menyehatkan.

Danau yang diketahui keberadaannya sejak tahun 1999, ini merupakan sumber mata air bagi warga desa di sekitarnya. Makanya rencana menjadikan danau ini sebagai objek wisata, dikhawatirkan sebagian warga karena berpotensi mencemari sumber air.
 

3 thoughts on “Madina

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s